Jakarta, 28 November 2011
LAPORAN
PEMBUATAN DAN PENGAWETAN KAYU DOUGLAS FIR
PROYEK : PT. INDAH KIAT PULP & PAPER TBK
ALAMAT : Jl. RAYA MINAS KM.26 - PERAWANG
NO PO : PRW – 8000046774

 

LATAR BELAKANG

Beberapa tahun terakhir ini jenis kayu Indonesia sudah digunakan sebagai bahan konstruksi dalam menara pendingin (cooling tower) yang semula masih menggunakan kayu impor, yaitu redwood (sequoia Semperuirens) atau douglas fir (Psudofsuga Menziessi), merupakan kayu yang direkomendasikan oleh CTI. Penggunaan kayu Indonesia diawali ketika Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) Kamojang Unit II dan III menggunakan kayu keruing (Dipterocarpus sp.), diawetkan dengan Celcure A(P), yaitu bahan pengawet larut air golongan CCA. Bahan pengawet tersebut dilarang untuk digunakan di Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian No.326/Kpts/TP.270/4/1994, tanggal 24 April 1994. Sementra kayu keruing sukar diperoleh dan kalupun ada harganya mahal dan pengganti CCA belum ada, maka pemenuhan kebutuhan dalam hal ini dipenuhi oleh kayu Douglas fir type Psudofsuga Menziessi yang diawetkan dengan bahan pengawet copper-chromated dengan metode vakum-tekan. Untuk memperolah hasil pengawetan sesuai standar, proses pengawetan harus dilakukan sesuai dengan petunjuk yang telah digariskan (Anonim,1994) Salah satu kriteria yang dipakai adalah retensi, yaitu adalah banyaknya bahan pengawet kering (tanpa air) yang diserap kayu, dinyatakan dalam kg/m3. Tulisan ini sebagai laporan teknis pengawetan kayu douglas fir dengan uraian sebagai berikut:

 

KETENTUAN TEKNIS

Jenis kayu yang harus diawetkan adalah jenis kayu douglas fir dan pengawetan dilakukan dengan proses vakum-tekan. Instalasi pengawetan memiliki peralatan pokok seperti tangki pencampur, pengawet dan pengukur larutan, pompa vakum, pompa tekan hidraulik, vaccuum chest, pompa pemindah larutan dan kompresor. Instalasi tersebut dilengkapi dengan manometer, termometer dan skala pengukur volume yang diperlukan untuk mengamati kondisi di dalam tangki pengawet antara lain banyaknya larutan yang diserap (diabsorpsi) oleh kayu selama proses pengawetan berlangsung. Selain itu juga diperlukan alat pembantu berupa hidrometer dan gelas ukur untuk menetapkan konsentrasi larutan bahan pengawet, pengukur kadar air untuk menetapkan kadar air kayu. Untuk memperoleh hasil yang baik permukaan kayu yang akan diawetkan harus bersih, bebas dari segala kotoran dan tidak bekulit. Kayu harus siap pakai dan dikeringkan terlebih dahulu sampai dicapai kadar air tidak lebih dari 30 persen bagi kayu yang mempunyai berat jenis kering udara 0,60 atau lebih. Untuk kayu Douglas Fir kelembapannya tidak boleh lebih dari 24% (sesuai dengan standart CTI). Pengukuran kadar air dilakukan paling sedikit pada 10 potong kayu paling basah. Elektroda pengukur harus dapat menusuk 1 cm ke dalam kayu. Kadar air kayu juga ditetapkan dengan cara oven sebagai pembanding.

 

PROSES KEGIATAN

Grading dilakukan sebelum melakukan slicing, agar proses pembelahan kayu / slicing mendapatkan hasil yang baik. Grading dilakukan 2 kali yaitu sebelum proses pembelahan dan setelah dibelah.
Proses Treatment atau pengawetan kayu dilakukan berdasarkan standart CTI, begitu juga dengan bahan treatment/ awet kayu yang digunakan berdasarkan standart CTI.
Bahan pengawet yang digunakan dinyatakan sebagai copper chromate (CC / ACC), sesuai dengan standart P5 AWPA. Larutan bahan pengawet sebelum digunakan diukur konsentrasinya melalui penetapan berat jenis dengan menggunakan hidometer. Karena hidrometer itu hanya menunjukkan berat jenis pada suhu tertentu, maka diperlukan tabel yang menggambarkan hubungan BJ, suhu dan konsentrasi larutan.
Tabel 1. Hubungan suhu, konsentrasi dan BJ larutan
pH
Konsentrasi
(%)
T°C
23
24
24,5
27
28,5
4
3
1,0165
1,0150
1,0165
1,0155
-
4
5
1,0330
1,0325
1,0325
1,0315
1,0305
4
6
1,0345
1,0345
1,0345
1,0335
-
4
7,5
1,0385
1,0380
1,0375
1,0365
1,0360
Pengawetan dilakukan dengan cara vakum-tekan (pressure Treatment) dengan urutan kegiatan sebagai berikut:
(a) Kayu dimasukkan ke dalam tangki pengawet, (b) Vakum awal dimulai, (c) Periode vakum awal berlangsung, (d) Vakum tetap dipertahankan, larutan bahan pengawet dialirkan ke dalam tangki pengawet. Selama pengaliran bahan pengawet vakum tidak boleh turun lebih dari 60 cm Hg., (e) Vakum awal dihentikan, (f) Tekanan hidraulik dimulai, (g) Periode tekanan berlansung, (h) Tekanan dihentikan, (i) Larutan dialirkan kembali ke dalam tangki persediaan, (j) Vakum akhir dimulai, (k) Periode vakum akhir berlangsung, (l) Vakum akhir dihentikan, (m) Proses pengawetan selesai dan kayu dikeluarkan dari tangki pengawet.
Kayu yang sudah di slicing dan di grading dimasukan ke dalam mesin Pressure Treatment.
Pertama-tama kayu tersebut kita vacum terlebih dahulu agar kandungan air yang terdapat dalam kayu tersebut dapat dikeluarkan secara maksimal. Setelah itu dilakukan pengisian larutan pengawet kedalam mesin. Lalu setelah air terisi penuh, kita melakukan pressure treatment pada tekanan 10 Atm. Setelah itu didiamkan selama +/- 2 jam pada tekanan atau pressure 10 Atm, agar larutan tersebut masuk kedalam kayu. Setelah mencapai 2 jam, larutan di dalam tangki pengawet dikeluarkan. Setelah air dalam tangki sudah keluar smua, lalu dilakukan vakum/ pengeringan kembali, untuk mengeluarkan larutan pengawet yang masih tersisa pada kayu tersebut.
Setelah itu kayu dikeluarkan dari mesin, lalu diangin-anginkan agar kayu tersebut lebih kering maksimal.
Proses Treatment tersebut di bawah pengawasan Bapak Barly,BSc,SH,MPd, sebagai ahli dalam pengawetan kayu di Indonesia, dan sudah dilakukan peninjauan oleh pihak perwakilan dari PT. Indah Kiat Pulp & Paper - Perawang dengan melakukan kunjungan ke Workshop kami. Berikut lampiran fotonya :
Packing dilakukan dengan menggunakan palet dan dibungkus dengan terpal pada bagian atas palet kayu yang sudah di treatment lalu diikat.
Pengiriman dilakukan dengan menggunakan Truk Tronton. Palet kayu dinaikkan ke atas bak dengan bantuan Forklift.
Proses pengiriman dilakukan secara partial. Lama perjalanan +/- 5 hari.
Berikut lampiran beberapa surat jalan hingga pengiriman ketiga :
Surat Jalan Pengiriman 1
Surat Jalan Pengiriman 2
Surat Jalan Pengiriman 3
Berdasarkan target retensi dan jumlah vulume kayu yang diawetkan dapat dihitung banyaknya absorpsi bahan pengawet yang harus dicapai dalam satu muatan (charge). Banyaknya larutan yang diserap kayu dalam suatu muatan dapat dibaca pada skala pengukur yang terdapat pada tangki pengukur, dinyatakan dalam charge sheet. Selain melalui pembacaan skala pengukur volume, retensi juga dapat ditetapkan berdasarkan hasil penimbangan contoh uji.
Berikut beberapa lampiran contoh charge sheet yang sudah diisi di lapangan :
Laporan ini disusun dengan maksud untuk mendokumentasikan seluruh kegiatan bantuan teknis tersebut, sebagai dasar pegangan administratif untuk PT. MASTRAINCO SURYADAYA maupun PT. INDAH KIAT PULP & PAPER. TBK.

 

 

Hormat kami,
PT. MASTRAINCO SURYADAYA

(....Stanley Darwis T, ST.....)
(...Barly,BSc,SH,MPd...)

 

 

 

(...David Tjahyar...)
Direktur